Senin, 14 Maret 2011
Mengenang 40 Tahun Kepergian USMAR ISMAIL Dari Darah dan Doa
Ditulis Oleh : Rita Sri Hastuti
Adegan
Adegan Film "Darah dan Doa" Sutradara Usmar Ismail yang diproduksi tahun 1950.

Hari Film Nasional, setiap tanggal 30 Maret, tidak lepas dari sosok Usmar Ismail (alm). Hari yang diperkuat dengan Keputusan Presiden RI Bacharudin Jusuf Habibie Nomor 25 Tahun 1999 itu, berdasarkan hari pertama syuting film Darah dan Doa (The Long March of Siliwangi) yang disutradarai Usmar Ismail pada 30 Maret 1950.

Sebetulnya Darah dan Doa bukanlah film cerita Indonesia pertama, karena pada 1926 sudah ada Loetoeng Kasaroeng. Usmar sendiri, pada 1949, sudah menjadi asisten sutradara Andjar Asmara untuk Gadis Desa, lalu menjadi sutradara untuk Harta Karoen (berdasarkan karya pujangga Prancis, Moliere) dan Tjitra (berdasarkan lakon karya Usmar sendiri tahun 1943).   

Namun, Usmar tidak mengakui ketiga filmnya terdahulu. “Sebab semua produksi Belanda dan dalam penulisan skenario maupun pembuatannya banyak diberi petunjuk oleh pimpinan orang Belanda, yang tidak selalu saya  setujui,” ungkap Usmar Ismail, dalam salah satu tulisannya.

Menurut Usmar, sebuah film nasional Indonesia adalah yang dibuat oleh orang dan perusahaan Indonesia dengan berpijak pada budaya Indonesia. Dan itu, baru dimulai dari Darah dan Doa, produksi Perusahaan Film Nasional Indonesia (PERFINI) dengan produser Djamaluddin Malik dan sutradara Usmar Ismail.

Itu sebabnya, H.Misbach Yusa Biran, sutradara dan penulis skenario yang dekat dengan Usmar Ismail, menyebut, “Pak Usmar ialah peletak batu pertama idealisme film Indonesia.”

 Cinta Tanah Air dan Religius

Menurut H.Rosihan Anwar, wartawan senior yang adalah adik ipar sekaligus sahabat Usmar Ismail, dalam pengantar pertunjukan film retrospektif Usmar Ismail di Festival Film Indonesia 1986, film Darah dan Doa dibuat pada saat Usmar berusia 29 tahun.

Film yang skenarionya ditulis Usmar berdasarkan cerita pendek Sitor Situmorang itu, berlatar long march Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat pada 1948, bercerita tentang kisah sedih Sudarto, seorang guru yang ikut revolusi fisik dengan menjadi kapten angkatan darat.     

Dibumbui hubungan dengan gadis Jerman, kemudian dengan jururawat, Sudarto merasakan perjuangan batin di dalam peristiwa Madiun karena harus menumpas teman-temannya yang terlibat pemberontakan PKI. Setelah sempat ditangkap dan dianiaya Belanda, ketika akan menyambut kedatangan Bung Karno di Jakarta, Sudarto mati ditembak oleh temannya yang membalas dendam atas peristiwa Madiun.

“Saya tertarik kepada kisah Sudarto, karena menceritakan secara jujur kisah manusia dengan tidak jatuh menjadi film propaganda yang murah,” ujar Usmar Ismail.

H.Rosihan Anwar menilai Usmar Ismail sejak muda memang cinta Tanah Air, mempunyai nasionalisme yang tinggi, dan idealisme yang menyala-nyala. “Usmar juga orang yang mendalam sekali religiositasnya. Sajak-sajak yang digubahnya dalam kumpulan Puntung Berasap, tidak saja bernapaskan nasionalisme, tetapi juga perasaan keagamaan dengan keyakinan kukuh kepada Tuhan dan agama. Segi religiositas ini tidak tampak penuh dalam film Darah dan Doa, tetapi kentara dalam film berikutnya, Dosa Tak Berampun,” tulis Rosihan Anwar.

Puisi, Teater, sampai Film

Kelahiran Bukittinggi (Sumatera Barat), 20 Maret 1921 ini, menurut Gayus Siagian – wartawan, penulis skenario, pengamat film  yang sejak lama menjadi sahabat – Usmar sejak masa remajanya sudah membayangkan kariernya. Usmar, anak kedua dari enam anak pasangan Datuk Tumenggung Ismail – guru Sekolah Kedokteran di Padang – dan Siti Fatimah, setamat dari HIS dan MULO di Padang, melanjutkan ke AMS bagian sastra di Yogyakarta.

“Waktu kami masih sekolah, sering saya membaca catatan dan karangan-karangan Usmar. Masih percobaan dan tidak dipublikasikan, tetapi sudah jelas menunjukkan bakatnya,” tulis Gayus Siagian, yang pada masa itu tinggal satu tempat kos dengan Usmar Ismail serta Rosihan Anwar, dan menyebut Usmar yang paling serius di antara mereka.

Maka ketika di Jakarta, pada zaman Jepang, Usmar meniti karier sebagai pemain sandiwara radio dengan honor Rp5. Bakatnya berkembang setelah bekerja di Keimin Bunka Sidosho (Kantor Besar Pusat Kebudayaan Jepang). Di kantor tersebut, Usmar mengumpulkan seniman-seniman dari berbagai bidang, antara lain Sanusi Pane, Armyn Pane, dan Cornel Simanjuntak. Di situlah ia berkenalan dengan Sonia Hermien binti Moh.Sanawi, putri asli Betawi yang kemudian dinikahinya pada 24 September 1944. Di situ pula Usmar banyak membuat syair untuk lagu-lagu Cornel, yang seni maupun pesanan Jepang.

Agar dapat lebih menyalurkan bakat seninya, Usmar kemudian membentuk perkumpulan sandiwara Maya, bersama kakaknya Abu Hanifah (alm), Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak (alm), dan H.B.Jassin (alm).  Di sini dia merasa bisa mengerjakan banyak hal, antara lain mementaskan karyanya Liburan Seniman dan mengumpulkan naskah-naskah dramanya dalam Sedih dan Gembira,  menulis cerita bersambung Tjitra, dan mengumpulkan puisinya dalam Puntung Berasap.

Tjitra, yang menjadi “lagu kebangsaan” Festival Film Indonesia hingga sekarang, awalnya dari pertengkaran kecil  Usmar dan Cornel. Pada suatu pagi, Usmar dan Cornel menikmati pemandangan di perkebunan kapas di Jawa Barat. Seorang gadis dari sungai melewati mereka, diiringi  semburat sinar fajar, menimbulkan siluet yang eksotik. Pada saat Usmar sedang menikmati karya alam yang menakjubkan itu, Cornel malah mendekati si gadis, sehingga buyarlah pemandangan itu.

Dengan geram, Usmar melempar kertas yang sudah ia remas-remas. Cornel membukanya, ternyata isinya sebuah syair: ‘Tjitra, engkaulah bajangan ...’.  Cornel langsung memekik, ”Ini syair bagus! Biar aku buatkan lagunya!” Begitu akrabnya mereka, sehingga ketika Cornel meninggal pada September 1946, Usmar merasa sangat kehilangan.

Sebagai pengarang, nama Usmar masuk di angkatan ’45 bersama H.B.Jassin, tetapi segera setelah proklamasi kemerdekaan ia menjadi redaktur surat kabar Rakyat, lalu pada 1946, ia menjadi tentara di Yogyakarta dengan pangkat mayor sambil menerbitkan majalah mingguan Tentara dan Patriot serta majalah kebudayaan Arena.

Ketika kembali ke Jakarta karena Nyonya Usmar Ismail melahirkan Irwan, anak kedua, Usmar bergabung di Antara sebagai wartawan politik. Pada 1948, ketika meliput perundingan Belanda-RI di Jakarta, ayah lima orang anak ini ditangkap Belanda, dengan tuduhan subversi. Keluar dari penjara Cipinang pada 1949, dalam kondisi lebih gemuk, Usmar memutuskan melepas ketentaraan untuk menekuni perfilman. Apalagi sutradara Anjar Asmara yang sudah mengetahui aktivitas Usmar ketika di teater, mengajaknya menjadi asistennya di film Gadis Desa

PERFINI

Kesuksesan sekaligus ketidakpuasannya membuat film untuk orang Belanda, mendorongnya untuk mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (PERFINI), pada Maret 1950 bersama teman-temannya ex-Maya dan ex-Yogyakarta. Setelah Darah dan Doa, ia memproduksi film perjuangan lagi yaitu Enam Jam di Yogya dan Dosa Tak Berampun.  

Pada 1951, selama setahun, Usmar mendapat tugas belajar ke University of California, Los Angeles, AS, mendalami sinematografi. Sepulangnya ke Indonesia, sederet film laris ia buat. Di antaranya Krisis yang sampai empat pekan di bioskop kelas atas, serta Harimau Campa dan Lewat Tengah Malam yang mendapat piala Citra. Film Tamu Agung yang diproduksi  tahun 1956, mendapat penghargaan Film Komedi Terbaik Festival Film Asia (FFA) di Hongkong. Ditambah pula beberapa film komersial seperti Tiga Dara (1956), Delapan Penjuru Angin (1957), dan Asmara Dara (1958).

“Film-film PERFINI selalu mengandung kritik sosial dan politik, dan punya relevansi dengan apa yang berlangsung dalam masyarakat. Sebagaimana jelas pada film Lagi-Lagi  Krisis dan Tamu Agung,” jelas  Misbach.

Usmar juga banyak melahirkan bintang baru sekitar 1950-1970. Di antaranya Raden Ismail, Rendra Karno, Fifi Young, Bambang Hermanto, AN Alcaff, Mieke Wijaya, Chitra Dewi, Indriati Iskak, Suzanna, Widyawati, dan yang terakhir Lenny Marlina melalui film Ananda. Sedangkan sineas didikan Usmar Ismail, selain Misbach Yusa Biran, juga D.Djajakusuma, Sumardjono, dan Wahyu Sihombing.

“Beliau biasa membentuk Sidang Pengarang untuk membahas cerita yang akan difilmkan. Pak Usmar Ismail sebagai ketua, Suryo Sumanto (penulis skenario), Gayus Siagian (kritikus film), Nur Alam (yang luas bacaannya), dan saya sendiri (yang ketika itu paling muda, 21 tahun),” tutur Misbach Yusa Biran, yang diterima bekerja di PERFINI setelah Usmar membaca kritik film Misbach di sebuah majalah.

Sayang, kondisi itu tak berlangsung lama. Rintangan dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), membuat Anak Perawan di Sarang Penyamun (1962) sempat diboikot peredarannya. Situasi semacam itu membuat Usmar bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan ditunjuk menjadi ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi), organ kebudayaan NU.

Tidak Puas terhadap Sensor

Tahun 2011 ini, tepat 40 tahun Usmar Ismail meninggalkan kita. Sederet jasa di bidang perfilman membuat ia pantas disebut Bapak Perfilman Indonesia. Dialah yang bersama Asrul Sani (alm) mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), yang kelak menghasilkan aktor, sutradara, dan sineas ternama seperti Teguh Karya (alm), Tatiek Malijati, W.Sihombing (alm), Pietradjaja Burnama, dan Galeb Husin.

Usmar pula bersama Djamaludin Malik yang merintis Persatuan Pengusaha Film Indonesia (PPFI), lalu mengadakan FFI pertama pada 1955 dengan tujuan meningkatkan mutu film Indonesia. Sebelumnya, pada 1954, membentuk Federation of Motion Picture Producers in Asia (FPA) yang kegiatan utamanya menyelenggarakan Festival Film Asia dan Pasific (FFAP).

“Saya menyaksikan bagaimana tegarnya beliau membela kepentingan film Indonesia, di rapat-rapat Dewan Film Nasional yang dibentuk pada 1969,” ujar drs.Narto Erawan, SH., MM., mantan Direktur Film Kemenbudpar, yang ketika kuliah di Akademi Teater Film (1963) sempat pula mendapat kuliah umum dari Usmar Ismail. 

Usmar juga pernah menyatakan ketidakpuasannya terhadap sensor film di Indonesia, semasa bernama Panitya Pengawas Film.  Kebetulan film produksinya, Terimalah Laguku, mendapat potongan di bagian yang menurut Usmar adalah bagian penting. Di antaranya adegan seorang suami menjewer telinga istrinya yang terlalu serius mendengarkan seorang penyanyi asing di televisi.

Menurut Usmar, sensor film berlawanan dengan asas-asas demokrasi, apalagi melanggar salah satu tiang demokrasi yang terpenting, yaitu kemerdekaan berpikir, berbicara, dan menyatakan pendapat.

Sebagai orang yang kenal dekat dengan Usmar Ismail sejak 1953, Misbach Yusa Biran yakin, seandainya Usmar Ismail sekarang masih ada, sikap tersebut tidak akan berubah. Namun, kata Misbach, dalam menghadapi film ‘kacangan’, Usmar akan menganjurkan agar sensor lebih teliti untuk menjaga masyarakat yang baru mendapatkan kemerdekaan.

“Dalam keadaan LSF sekarang yang sedang kelabakan memelototi sekian banyak produksi kejar tayang, tentu akan banyak mendapat kritik beliau. Tetapi, saya rasa, beliau masih setuju sikap LSF yang bertindak tegas terhadap kebebasan yang kebablasan,” ujar Misbach Yusa Biran.

Pergi di Tengah Rasa Kecewa

Sampai pada 31 Desember 1970, Usmar Ismail pulang dari Italia untuk mengurus kopifilm Adventure in Bali – kerja sama Perfini dan Italia – yang ternyata untuk peredaran di Indonesia tidak dikirim. Padahal ia sedang berjuang untuk mempertahankan PERFINI, meskipun untuk menggaji karyawan harus dengan melego peralatan studio.

Di tengah rasa kecewanya dengan rekanan Italianya, setiba di Indonesia dia harus mem-PHK 160 karyawannya di PT Ria Sari Show & Restaurant Management di Miraca Sky Club, karena bisnis yang ia bangun sejak 1967 itu dilikuidasi oleh Sarinah. “Baru pertama kali ini dalam sejarah hidup saya harus berpisah dengan karyawan. Ini sangat berat bagi saya,” kata Usmar, dengan nada terbata-bata.

Malamnya, ia masih sempat menyelesaikan dubbing film Ananda di studio PERFINI. Pada saat itu, menurut Syamsul Fuad, asistennya, Usmar tertidur di bangku panjang hingga mendengkur. Karena akan take,  maka mereka membangunkan Usmar.

Setelah itu, menjelang pergantian tahun, seperti biasa ia mengajak keluarga dan sahabat-sahabatnya ke Miraca Sky Club. Sebetulnya semua orang film diundang bermalam tahun baru di rumah Turino Junaedy (alm), tetapi karena kali itu Usmar sekaligus mengadakan perpisahan dengan karyawan, ia mengatakan akan menyusul.

Tidak biasanya, malam itu dia mengajak semua bawahannya untuk berfoto bersama. Kemudian tepat pukul 00.00, ia memeluk satu per satu istri kolega dan bawahannya untuk mengucapkan selamat tahun baru sekaligus kata-kata perpisahan. Ia juga menghendaki sahabat-sahabatnya untuk tetap duduk di dekatnya. Yang dianggap paling aneh, Usmar yang ketika muda pernah belajar dansa, malam itu ber-soul sendiri. 

Kemudian terdengar kabar, esok sorenya pukul 17 ia tak sadarkan diri, hingga wafatnya tanggal 2 Januari pukul 5.20 WIB. Atas permintaan keluarga, H.Usmar Ismail dimakamkan di TPU Karet, Jakarta.  Karangan-karangan bunga menutupi makamnya, termasuk dari Presiden Soekarno, yang menyebut Usmar sebagai “Sutradara Indonesia yang sesungguhnya”. []


 

Komentar ir h maulisyah p sitompul :
"tolong dng liric lagu citra dimuat seperti lirik lagu2 yang lain. jangan menganak tirikan lirik lagu CITRA.-"
29 Juli 2013
Komentar HERI :
"ELEK BANGETZ"
17 Juni 2013
Komentar hansen :
"Yup, that sohlud defo do the trick!"
12 Oktober 2011
Komentar Anda :
Nama    :
E-mail   :
Pesan :

Disclaimer : "Komentar Anda tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Lembaga Sensor Film.
Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras dan antar golongan".

[ Kembali ]