Jumat, 04 Februari 2011
Novel BELENGGU “Terbelenggu” Tanda Baca Elipsis?
Ditulis Oleh : Nunus Supardi *)
Armijn
Armijn Pane,anggota LSF periode 1950-1955

Ketika membalik-balik buku tentang Armijn Pane, saya baru tahu ia pernah menjadi anggota Panitia Sensor Film (PSF) yang kini berubah nama menjadi Lembaga Sensor Film (LSF). Di bawah pimpinan ketua PSF Mr. Maria Ulfah Santoso (1950-1964) Armijn Pane menjadi anggota dari tahun 1950 hingga 1955. Tidak salah jika jejak Armijn Pane diikuti oleh pengarang novel wanita yang produktif, Titie Said, yang sempat menjadi Ketua LSF.

Siapa Armijn Pane? Lahir di Muara Sipongi tanggal 18 Agustus 1908 dan wafat  16 Februari 1970. Ia adalah sastrawan angkatan Pujangga Baru. Karya sastranya antara lain:   Gamelan Djiwa (1960), Djiwa Berdjiwa (1939), Belenggu (1940), Djinak-Djinak Merpati (1940) Kisah Antara Manusia (1953) dan Antara Bumi dan Langit (1951). Novel Belenggu telah puluhan kali saya baca ketika masih remaja dulu. Buku ini mulai ditulis dari bulan Oktober hingga Desember 1938. Sebelum dicetak dalam bentuk buku, novel ini lebih dulu dimuat dalam majalah Pujangga Baru ketika Armijn Pane menduduki jabatan sekretaris redaksi. Semula novel ini berjudul “Pintu Kemana?” Setelah akan diterbitkan dalam bentuk buku, judul diganti menjadi “Belenggu”. Selain diterbitkan di dalam negeri, tahun 1965 Belenggu juga diterbitkan oleh penerbit Malaysia (Petaling Jaya) dan menjadi bacaan pupuler di kalangan remaja pecinta sastra di Malaysia.

Sudah puluhan orang yang mengulas karya sastra yang tergolong fenomenal itu. Mereka menyoroti dari berbagai sudut pandang: sejarah sastra, tema, gaya bahasa, gaya cerita, psikologi, sosial,  budaya, dll. Tetapi ada bagian dari novel itu yang belum pernah ditulis orang. Sederhana sekali, yakni sekitar pemakaian tanda baca. Untuk mengenang jasa almarhum sengaja saya tulis pemakaian tanda baca, khususnya tanda baca “elipsis” ( ... ) dalam novel Belenggu yang ternyata memiliki keunikan tersendiri.

Mengapa Belenggu?

Karya Armijn Pane yang satu ini ketika disampaikan  ke Redaktur Balai Pustaka ditolak karena dinilai merupakan karya sastra yang membeberkan realita sosial dalam sebuah kehidupan di sebuah rumah tangga. Novel Belenggu memaparkan kehidupan para tokoh yang terbelenggu oleh keegoisan masing-masing tokoh, yaitu dr. Sukartono (Tono) dan isterinya Sumartini (Tini), serta selingkuhan sang dokter yang bernama Rohayah (Yah). Gambaran sebuah keluarga terpelajar yang gagal dalam membangun rumah tangga. 

Tono merupakan seorang dokter yang sangat peduli terhadap pasien-pasiennya. Setiap hari, siang maupun malam selalu sibuk dengan pasien. Ia justru mengabaikan isterinya  Tini  yang berparas cantik.   Tini merasa, Tono egois. Tono menikahi Tini, tidak didasari cinta, melainkan hanya menganggap Tini pantas untuk menjadi istrinya. Sebaliknya di dalam diri Tini juga berkecamuk sikap yang sama karena ia menikah dengan Tono hanya sekedar ingin melupakan masa lalunya.

Pertengkaran di dalam rumah tangga menjadi hal biasa. Konflik yang terjadi dalam rumah tangga Tono dan Tini menjadi inti dari novel Belenggu. Konflik dari dua pribadi yang sama-sama egois. Konflik itu diperparah dengan hadirnya tokoh ketiga, Rohayah (Yah), teman Tono pada waktu masih di Sekolah Rakyat dulu. Diam-diam Yah memendam rasa cinta terhadap Tono. Yah juga merupakan pribadi yang gagal dalam berumah tangga. Tidak rela dipaksa kawin oleh orang tuanya, ia  pergi ke Jakarta. Tragisnya, Yah  di Jakarta menjadi seorang wanita panggilan yang selalu kesepian. Ketika tahu keberadaan Tono, Yah segera menghubunginya. Berpura-pura menjadi orang sedang sakit, Yah berhasil  mengelabui Tono sehingga Tono pun masuk perangkap.

Sebuah cerita cinta segi tiga antara Tono, Tini dan Yah, yang sarat dengan konfik batin disajikan kepada pembaca dengan gaya cerita dan gaya bahasa yang menarik. Dalam mengakhiri cerita novelnya Armijn memilih berbeda dengan pengarang-pengarang novel  sejaman yang cenderung memihak kepada salah satu tokoh atau mematikan salah satu tokohnya. Armijn justru mengakhiri cerita Belenggu dengan cara yang adil bagi  ketiganya. Tidak ada tokoh yang dikalahkan atau dimatikan. Mereka berpisah, tetapi dari perpisahan itu ketiganya merasa telah terbebas dari ”belenggu” perasaan masing-masing sebagai inti permasalahan yang diangkat Armijn ke dalam novel ini.

Terbebasnya belenggu dari ketiga tokoh itu dapat kita lihat pada kata-kata masing-masing tokoh.  Setelah berpisah dengan Tini dan Yah, dr. Tono merasa ”...baru bangun dari mimpi, seolah-olah selama ini ada yang membelenggu pikiran dan angan-angannya, kini belenggu itu berdering jatuh ke tanah, ...”. (hal. 148) Tini juga merasa di dalam hatinya menjadi tenang karena: -”Haru biru yang selama ini dalam hatinya sudah hilang sama sekali. Belenggu yang sebagai mengikat semangatnya sudah terlepas. Di dihadapan mata semangatnya dengan terang memanjang jalan yang ditempuhnya”. (hal. 136) Demikian pula halnya dengan Yah, setelah perpisahan itu juga telah menemukan dunia baru, terbebas dari belenggu yang selama dia rasakan. Kesimpulan ini didapat dari kalimat: -”Yah tersenyum, sambil menangis... dia merasa belenggu dahulu, waktu belum ketemu Tono, terkunci lagi, tetapi belenggu itu terasa ringan, menerbitkan perasaan gembira yang tidak terhingga...”. (hal 149)

Pamakaian tanda baca elipsis

Nama tanda baca ini berasal dari kata bahasa Yunani élleipsis, yang berarti penghilangan.  Pembentukannya dengan cara merangkai tanda baca titik (.). Tanda titik di Malaysia disebut noktah, di Inggris disebut full stop, period atau dot. Rangkaian tanda itu berjumlah tiga titik ( ... ). Tanda baca “elipsis” biasa disebut omission marks atau  suspension, yang berarti penghilangan kata atau frase dari teks atau kalimat. Di Polandia elipsis disebut wielokropek. Aslinya ditulis ”ellipsis”, dan di Indonesia sesuai EYD penulisannya menjadi “elipsis” (dengan satu huruf “l”). Pemakaianya diatur sebagai berikut: (1) Dipakai dalam kalimat yang terputus-putus. Contoh: -  ”Kalau begitu ... ya, marilah kita bergerak”; (2) Dipakai  untuk  menunjukkan  bahwa  dalam  suatu  kalimat  atau  naskah ada bagian yang dihilangkan. Contoh: -  ”Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut”.

Tujuan pemakaian tanda baca elipsis menurut W.J.S. Poerwadarminta adalah untuk: (1) menandai adanya kata atau frasa yang tidak ditulis dalam statu kalimat, dan selanjutnya pembaca diharapkan akan mengisi sendiri kata-kata yang dihilangkan; (2) melukiskan apa yang tidak dapat lagi diucapkan oleh tokoh dalam cerita karena keharuan yang sangat dalam, menyebabkan kata-kata tidak keluar untuk mengungkapkan sesuatu; (3)  menandai adanya tanda jeda panjang. Selain itu, H.B. Jassin menambahkan satu tujuan, yaitu untuk: (4) menandai adanya loncatan kepada suatu ketiba-tibaan, kejadian atau pikiran yang tidak disangka-sangka atau sebagai tanda belum selesainya berbicara, terputus-putusnya orang bicara, dsb.

Di Amerika Serikat penulisan tanda baca ini  diharuskan memakai spasi dan hanya tiga titik saja: ”The ellipsis consists of three evenly spaced dots (periods) with spaces between the ellipsis and surrounding letters or other marks”. Ada spasi antara tanda ”ellipsis” dengan huruf sebelum dan sesudahnya ( ). Contoh: -  “The ceremony honored twelve brilliant athletes ... visiting the U.S.”.   Di Polandia elipsis ditulis dengan tiga titik tanpa spasi dari huruf terakhir atau dengan kata yang mengapitnya. Di Jepang tanda baca ini disimbolkan tidak hanya tiga titik melainkan dengan enam titik. Cara penulisannya tidak horizontal melainkan dengan vertikal, sesuai dengan cara penulisan huruf  Jepang.  Bahkan di Jepang ada yang memakai sampai sepuluh titik, sehingga sering tanda baca itu dijadikan olok-olok dengan sebutan ”ten-ten-ten”. Sementara di China elipsis juga ditulis dengan enam titik dengan penulisan tiga titik dalam dua grup (ada spasi).

Di Indonesia penulisan tanda baca elipsis disepakati dengan menggunakan tiga tanda titik, mengikuti pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) tahun 1972. Bagaimana jika  tanda baca ellipsis dipakai pada awal kalimat? Supaya tidak kacau dengan tanda titik pada akhir kalimat sebelumnya, maka harus ada spasi.

Contoh: -  ”Pak Amir tadi pagi meninggal. …Meninggal?”  (Spasi)

Bagaimana bila elipsis dipakai pada akhir kalimat? Tanda baca itu ditulis dengan empat titik. Tiga titik sebagai tanda baca elipsis dann satu titik tambahan sebagai tanda baca untuk mengakhiri kalimat.

Contoh: - « Lihatlah, bulan mulai terbit.... Menerangi jagat raya ». (Tanda titik  keempat sebagai tanda akhir kalimat)

Tidak ada novel lain yang memakai tanda baca elipsis sebanyak novel Belenggu. Selain mendominasi seluruh kalimat dan halaman buku, cara penempatan tanda itu sangat  beragam. Saking banyaknya pemakaian tanda itu, seolah-olah novel Belenggu menjadi “terbelenggu” oleh pemakaian tanda baca itu. Apakah benar demikian? Seberapa banyakkah pemakaian tanda baca itu?

Sebagai pegangan dalam penyimakan saya pakai buku Belenggu cetakan keempat, tahun 1954. Sebenarnya akan lebih baik apabila digunakan buku terbitan pertama (1940) tetapi untuk mencari buku terbitan pertama, kedua atau ketiga tidak tersedia waktu yang cukup. Sebagai novel terkenal, sampai dengan tahun 2008 Belenggu sudah mengalami cetak ulang yang ke-21. Meskipun menggunakan buku cetakan keempat kemungkinan telah terjadi perubahan atau penghilangan pemakaian tanda baca dibandingkan dengan cetakan sebelumnya sangat kecil. Cetakan terakhir justru menjadi penting sebagai pembanding, terutama dalam hal pemakaian tanda baca yang tentunya telah mengikuti pedoman EYD.

Bertolak uraian dan dari 4 tujuan pemakaian tanda elipsis seperti disebut di atas pemakaian tanda baca dalam Belenggu dapat dibedakan atas dua macam cara. Pertama, pemakaian tanda baca titik (.) yang di sini saya sebut dengan pemakaian tanda ”titik panjang” karena  dipakai sepanjang satu baris. Kedua, pemakaian tanda baca elipsis ( ... ).

Pemakaian tanda baca ”titik panjang” dimaksudkan untuk melukiskan pergantian persoalan yang dijadikan topik dalam bab novel tersebut. Tanda baca ini terdapat pada halaman 22. Bunyi kalimat itu sebelum dan sesudah tanda baca ”titik panjang” adalah sebagai berikut:

-  ” Tetapi pikiran itu tiada timbul benar, tiada terasa perlu bertanya.

................................................................................................................................................

Habis mencuci tangan, Sukartono duduk di atas kursi yang bersandar di atas kursi yang bersandar pada tembok kamar ”Saya tuliskan obat, nanti nyonya suruh ambil di apotheek.” (hal.22)

 Tanda ”titik panjang” dalam cetakan ke-21 ternyata dihilangkan, diganti dengan tanda lain (), yaitu dengan tiga bintang membentu piramid yang disebut asterism.

Selanjutnya, dalam hal pemakaian tanda baca elipsis dalam seluruh kalimat novel Belenggu dapat dibedakan menjadi 4 macam. Pertama,  tanda elipsis di awal kalimat. Tanda ini dipakai untuk menggambarkan keraguan atau kebimbangan, sehingga ada jeda. Dengan tanda baca ini kata-kata tidak langsung terucap. Contoh: (1) -”...Bukankah tuan dokter aneh?” (hal. 30); (2)  -”...Apakah perlunya semua itu?” (hal.130); dan (3) -”...Yah, engkau bukan, nyonya Eni engkau bukan, siapakh engkau?” (hal. 150)

Kedua, tanda elipsis di tengah kalimat. Tanda ini dipakai untuk melukiskan jeda panjang dan kadang-kadang juga sebagai lompatan ketiba-tibaan. Dengan memakai tanda baca ini sifat bimbang dan ragu dari tokoh menjadi semakin jelas.  Contoh: (1) - ”Mengapa tidak...mulai terbit marah Sukartono”. (hal. 18); (2) - ”Tidak mengapa, tiada lagi...tetapi boleh saja menilpon dulu, bertanya ke rumah?” (hal 31); (3) - ”Kalau Aminah nanti tahu tentang Yah...kalau dikatakannya kepada Tini?  (hal. 50)

Ketiga, tanda elipsis di akhir kalimat. Tanda ini kebanyakan digunakan untuk melukiskan sesuatu yang tidak terucap karena haru, marah atau ucapan yang terpotong oleh ucapan orang lain. Contoh: (1) - ”Tiada hendak... (hal. 16); (2) - ”Lihat bulan, mulai terbit sekeping...” (hal. 32); (3) - “Engkau barangkali belum, aku sudah lama...” (hal.36); dan (4) -  “Bukan, sopir itu sendiri dan perempuan tua...” (hal. 164) 

Keempat, tanda baca elipsis di pakai dalam satu kalimat secara bervariasi (campuran), yakni diletakkan di awal dan di tengah kalimat, atau di awal dan di akhir, atau di awal, di tengah dan di akhir kalimat. Tanda baca  ini untuk menggambarkan keraguan, kebimbangan sehingga kata-kata menjadi terputus-putus. Contoh: (1) - ”Ah, kadang-kadang benar-benar kekurangan waktu...dia berhenti berkata, mengapa...mengapa aku membukakan perasaanku kepada perempuan ini...ah, untuk memberi kadarnya saja, untuk menyenangkan hatinya saja”. (hal.30); (2)  - ”Dicobanya hendak membuat prognose...(dia tertawa sama sendirinya, mengejekkan dirinya sendiri)..., tetapi dia terjerumus dengan tiada setahunya...dalam dunia lama, tetapi...baru kata pikirannya dengan senang, mengingat ramah tamah Yah...perempuan sejati”.  (hal 80); (3) -  ”Karena dialah,...kasih sayangnya membuat aku takut, bimbang, hatiku jayu, menjadi kusut, di dalam hatiku bertambah hampa...tidak ada yang dapat kuberikan padanya, lain dari pasir belaka, padang pasir, padang pasir, tiada kasih saya tempat bernaung”. (hal.143)

Pemakaian elipsis di tengah kalimat tidak hanya satu kali saja. Seperti tampak dalam kalimat di bawah ini, tanda baca elipsis di tengah kalimat dipakai sebanyak  3 kali. Contoh: (1) - ”Dicobanya hendak membuat prognose..... (dia tertawa sama sendirinya, mengejekkan dirinya sendiri)..., tetapi dia terjerumus dengan tiada setahunya..., dalam dunia lama tetapi...baru, kata pikirannya dengan senang mengingat ramah-tamah Yah...perempaun sejati!”, (hal. 80); (2) -  ”Tetapi, tetapi, dia rama-rama,...(Tini tersenyum manis)..., tiada peduli..., ah, manusia tiada tahu betapa sedihnya di dalam hati, karena...(pikirannya seolah-olah mencari kata yang tepat)..., karena, ah, tiada dapat dikatakan”. (hal. 71)

Bagaimana bila dibandingkan dengan cetakan ke-21? Ternyata pemakaian tanda baca elipsis dalam cetakan ke-21 tidak mengikuti pedoman EYD. Cara penulisan tanda baca elipsis masih mengikuti cara penulisan yang lama (bebas jumlahnya). Sebagai contoh di halaman 106 di awal kalimat memakai 6 titik, di tengah 4  titik, sedangkan pada akhir kalimat menggunakan 21 titik. Contoh: -”......Massa, massa, engkau berteriak-teriak, tetapi....suaranya di dalam hatimu tiada engkau dengar.....................”. Jumlah titik yang dipakai sangat bervariasi, yang paling banyak antara  antara 5 hingga 10 titik, sedangkan elipsis yang paling panjang sebanyak 30 titik (cetakan ke-21 hal. 102). Contoh: -”Cobalah, ½ + ¼ + 1/8 + 1/16 .............................. seterusnya akan menjadi banyak benar bukan?”

Jika dihitung persebarannya, tanda baca elipsis yang dipakai oleh Armijn Pane bertaburan di 119 halaman dari 135 halaman buku. Hanya 16 halaman saja yang bebas dari pemakaian tanda baca elipsis. Tanda baca itu dipakai sebanyak 479 kali pada 357 kalimat baik di awal, di tengah, di akhir kalimat serta pemakaian secara campuran. Ini berarti  Armijn Pane telah memakai tanda elipsis sebanyak 10,8% dari seluruh kalimat dalam Belenggu yang berjumlah sekitar 3.291 kalimat. Tidak ada novel lain yang dapat menyamainya.

Mengapa Armijn Pane memakai tanda baca elipsis secara bervariasi dan sebanyak itu?  Jawaban atas pertanyaan ini patut ditelusuri melalui bagaimana penokohan atau perwatakan dari novel ini, karena menurut buku Dictionary of Word Literature, penokohan merupakan bagian penting dari cerita rekaan (the foundation of good fiction is character creating and nothing else). Sementara menurut M.S. Hutagalung penggambaran watak harus dapat dipertanggungjawabkan kalau ditinjau dari sudut psikologis, sosiologis dan fisiologis dari para tokoh dalam setiap cerita rekaan.

Kondisi sosial yang pada saat itu menurut H.B. Jassin dalam masa pancaroba tergambar dalam Belenggu. Konflik antara kehidupan tradisional dan modern, antara kaum terpelajar dengan rakyat yang tidak terdidik. Ketiga tokoh yang menjadi pusat pengisahan pertentangan kejiwaan. Tokoh yang terbelenggu oleh rasa egois yang tak terkendali, sehingga tidak memunculkan sebuah kebahagiaan dalam berumah tangga. Menurut Taufik Rahzen Belenggu merupakan novel yang mencerminkan tidak hanya ketegangan sosial tetapi sebuah ketegangan kebudayaan. Gaya bertuturnya yang impresionistik mengesankan betapa Armijn menghargai benar alam raya sebagai mata air inspirasi dan imajinasi. Tetapi cara yang dipakai dalam mengisahkan perselingkuhan tokoh Sokartono tanpa memberi penilaian moral, seraya tetap fokus memaparkan arus kesadaran serta gejolak batin para tokoh novelnya, sama dinginnya seperti D. H. Lawrence mengisahkan perselingkuhan Lady Chatterley dalam Lady Chatterley’s Lover atau seperti Gustave Flaubert sewaktu menggambarkan perselingkuhan Emma Bovary dalam Madame Bovary.

Ditinjau dari sudut psikologis, Tono adalah gambaran golongan muda yang mendapat pengaruh barat tetapi tampak ragu-ragu dalam melangkahkan kakinya ke jaman baru. Mereka menjadi tipe intelektual yang ragu dan bimbang, termasuk bimbang dalam menghadapi golongan tua, seperti dalam kalimat: - “Benar, Paman, cinta kami sudah mati....”.(hal. 154). Tini juga demikian. Ia sedang mengalami frustrasi karena tidak mendapatkan cinta dari Tono. Karena itu cintanya kembali ke pacar lama, Hartono. Selain itu Tini juga dihadapkan dengan tokoh tua (Ny. Rusdio) yang masih memegang teguh tradisi. Ny. Rusdio mencoba menasihati, namun Tini tetap kukuh dengan pendiriannya. Tampak dalam kalimat: -“Memang, Ibu! Jalan pikiran kita berlainan. Aku berhak juga menyenangkan pikiranku, menggembirakan hatiku”. (hal. 62)

Bagaimana dengan tokoh Yah? Ia kecewa dengan nasibnya. Karena dipaksa kawin oleh orang tuanya, ia lari ke Jakarta. Bukan menjadi wanita terhormat, melainkan terjerumus menjadi seorang ”bunga raya” yang berganti-ganti teman lekaki. Jiwa Yah juga sedang terbelenggu oleh langkah yang salah.

Ditilik dari sudut psikologi, ketiga tokoh itu sedang mengalami tekanan batin. Tokoh utama (Tono, Tini, dan Yah) dalam Belenggu dalam keadaan terbelenggu, bimbang, dan ragu jiwanya. Oleh sebab itulah Armijn Pane menggunakan banyak tanda baca elipsis untuk dapat mengekpresikan keterbelengguan itu secara tepat. Menurut Onong Uchjana Effendi, titik fokus kedua yang dapat digunakan untuk melihat pergulatan batin para tokoh dalam novel ini adalah berkaitan dengan alasan mengapa pergolakan eksistensial dan transisi budaya yang dialami para tokoh utama dalam novel ini digambarkan dengan cara yang mirip dengan monolog.

Monolog, jika mengacu pada teori komunikasi, merupakan sebentuk komunikasi intrapersonal. Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang. Seseorang berbicara kepada dirinya sendiri, bertanya kepada dirinya, dan dijawab oleh dirinya sendiri. Komunikasi intrapersonal ini terjadi karena adanya perangsang internal dari subjek dan juga perangsang eksternal dari lingkungan sekitar.         Menurut teori, cara penceritaan yang dipakai Armijn Pane seperti ini disebut ”monologue interior”, atau kadang-kadang ditulis ”interior monologue”. Di dalam Webster’s New World College Dictionary cara penceritaan seperti ini dijelaskan sbb.: ”... a narrative technique or passage which suggests a character’s stream of consciousness”. Tokoh berbicara dalam batin alias berbicara sendiri. Mungkin dapat disamakan dengan istilah ”ngunandika”  di kalangan masyarakat Jawa.

Teknik yang paling tepat untuk menggambarkan cara ”ngunadiko” tidak lain hanya dengan tanda baca elipsis. Karena keunikan dalam pemilihan kata, penyusunan kalimat dan pemakaian tanda baca, maka Jassin mengatakan bahasa Armijn Pane dalam Belenggu bersifat karikatur atau hampir-hampir menyerupai karikatur. Pendapat ini dibantah oleh Ajip Rosidi, karena menurut Ajip pemakaian bahasa untuk melukiskan latar dan konflik jiwa para tokoh bukanlah karikatur, tetapi justru penuh kesungguhan mau menggambarkan apa adanya, terdorong oleh keinginan mendapatkan potret yang tepat. Bahkan disebutnya Armijn dinilai sebagai seorang pelukis suasana yang ulung. Lukisannya tidak lengkap, hanya beberapa garis sugestif, yang mengingatkan pada lukisan Tiongkok Kuno.

Dari hasil penyimakan pemakaian tanda baca elipsis dalam novel Belenggu tampak dengan jelas betapa seriusnya Armijn Pane dalam mencari cara untuk dapat ”memindahkan” segala pernik-pernik bahasa lisan ke bahasa tulis. Pemakaian tanda baca elipsis yang bertebaran di hampir seluruh halaman buku bukan berarti ”membelenggu” pembaca dalam menangkap suasana batin. Tetapi sebaliknya merupakan upaya agar pembaca dapat menangkap konflik batin yang sedang terbelenggu secara tepat. Oleh karena itu, meskipun Balai Pustaka menolak novel Belenggu karena alasan bahasa, tetapi Armijn Pane tetap pada pendirian. Seperti ”menantang” terhadap reaksi yang muncul atas karyanya itu, ia lalu menuliskan kata-kata dalam novelnya: “Perahu tumpangan keyakinanku, berlayarlah engkau, jangan enggan menempuh angin ribut, taufan badai, ke tempat pelabuhan yang hendak engkau tuju. Berlayarlah engkau ke dunia baru.”

Sayang tidak ada rekaman tentang penerapan sikap keras, tegas, konsisten dan konsekuen Armijn Pane ketika melakukan penyensoran. Jika ya, patutlah sikap itu diteladani.

Komentar juliyati panjaitan :
"bisa gak contooh di atas sebagai penggunaan tanda baca yang salah"
19 September 2013
Komentar nunus supardi :
"Syukur kalau tulisan saya ada manfaatnya. Sebenarnya tulisan aslinya panjang. Semoga sukses."
25 Desember 2012
Komentar Suci Tantyawika Putri :
"sangat membantu sekali,, kebetulan lagi ada tugas juga tentang tanda baca "elipsis" terima kasih"
17 Agustus 2012
Komentar Anda :
Nama    :
E-mail   :
Pesan :

Disclaimer : "Komentar Anda tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Lembaga Sensor Film.
Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras dan antar golongan".

[ Kembali ]